Tuesday, January 4, 2011

Suami, kekasih dan anak kost - 2

Awalnya tidak ada apa-apa antara aku dan Mas Narto. Aku mulai tertarik karena Narto sebagai anak kost bersedia membantu Ayah, Ibu dan aku, selain karena dia cerdas. Aku serasa mendapatkan guru privat untuk mata pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia. Dia pernah usul pada Ayah untuk mengembangkan rumah kami menjadi kost-kost-an memanfaatkan lahan kosong yang terletak di samping depan rumah. Desain kamarnya dia bikin, bisa jadi 20 kamar kalau 2 lantai.

'Biayanya dari mana?' kata Ayah.
'Pinjam dari bank, Pak.'
'Emang gampang minjem duit di bank.'
'Ada persyaratannya, memang. Sertifikat rumah untuk jaminan, dan proposal usaha.'
'Proposal apa?'
'Saya dan teman-teman yang bikin proposal,' ujar Narto.

Hitung-hitungan Mas Narto, kami bisa mendapatkan penghasilan lumayan dari usaha ini setelah dipotong cicilan dan bunga bank disamping dapat memberi pekerjaan paling tidak untuk 2 orang.
'Saya jamin kamar akan selalu terisi,' tambah Mas Narto meyakinkan Ayah.
Untuk hal ini aku sependapat dengan Mas Narto. Rumah kami memang letaknya strategis, tidak jauh dari jalan raya, tapi cukup hening dan teduh, lingkungan yang hijau. Tapi ayah masih pikir-pikir, belum mengiyakan.

Mas Narto selalu ada waktu buatku kalau aku nanya-nanya PR ketiga mata pelajaran itu. Penjelasannya malah lebih enak dibanding guruku, mudah dimengerti. Aku bebas saja keluar masuk kamarnya. Sudah biasa kalau aku mendapati Mas Narto hanya bercelana pendek di kamarnya. Kadang Mas Narto juga masuk ke kamarku, dengan seijinku. Pernah ketika Mas Narto masuk ke kamarku dan kami ngobrol sambil aku terus melipat lengan di dadaku. Aku baru saja selesai mandi dan belum sempat mengenakan bra, hanya t-shirt saja. Aku dan juga seisi rumah menganggap kami seperti kakak-adik.

Anehnya, kalau Mas Narto liburan semester dan pulang kampung, aku merasa sepi, aku merindukan kehadirannya. Sebaliknya, bila teman sekolah (cowok) main ke rumah, roman wajah Mas Narto menunjukkan rasa kurang senang. Sampai suatu ketika, ternyata Mas Narto menganggapku bukan sekedar adik saja.

Sore itu kami sedang membahas satu soal PR Fisika yang rumit di kamarnya. Aku tercenung memandangi soal, tidak tahu apa yang harus kubuat, sementara Mas Narto sibuk membongkar buku referensi. Ketemu catatan kuliahnya. Kami meneliti tulisan tangan yang sebagian kabur itu, sehingga wajah kami begitu berdekatan.

'Ketemu caranya..!' teriak Mas Narto kegirangan, lalu tiba-tiba dia mengecup pipiku.
Aku sejenak kaget dan terpana. Tempelan bibir Mas Narto pada pipiku barusan terasa sampai di dalam dadaku, berdebar-debar. Berbeda rasanya dengan ciuman pipi dari pamanku, misalnya. Mas Narto tampaknya juga kaget sendiri atas kelancangannya. Matanya tajam menatapku. Lalu tangannya mengelus pipiku bekas kecupannya tadi. Terus tangannya bergeser ke daguku, diangkatnya daguku. Aku masih terpana, tidak bereaksi. Pun ketika dia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Detik berikutnya bibirnya telah menempel di bibirku. Aku merasa aneh. Belum pernah seorang pria sampai mencium bibirku. Aku mendorong bahunya sampai ciuman terlepas. Entah mengapa, aku jadi ingin marah. Mas Narto tahu situasinya, cepat-cepat dia memegang tanganku dan meminta maaf.
'Sorry ya Ipeh..' hanya itu yang keluar dari mulutnya.
'Kenapa Mas seberani itu..?'
'Karena Mas sayang ama kamu, Ipeh.. maafin Mas ya..'
Kenapa Aku harus marah? Ucapannya barusan tidak mengagetkanku. Aku telah menduganya dari perilakunya selama ini, begitu perhatian padaku. Jujur saja, aku juga mulai menyayanginya.

'Okay deh Mas, Ipeh maafin.'
'Mas sayang ama kamu.'
'Iya, Ipeh tahu.'
'Apa jawabmu, Ipeh..?'
Aku diam. Rasanya berat mau bilang, 'Ipeh sayang juga'. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku.

'Ipeh..?'
'Entahlah Mas..' sahutku, tapi aku merebahkan kepalaku di dada Mas Narto.
Lalu Mas Narto mencium bibirku lagi, kali ini aku tidak menolak, tapi masih pasif. Saat kurasakan nikmat menjalar ke kepalaku, aku mulai membalas lumatannya. Mas Narto makin semangat. Sore itu aku merasakan ciuman pertamaku.

***

Pertemuan-pertemuan kami berikutnya selalu dihiasi dengan cium-ciuman. Bahkan Mas Narto mulai berani meraba-raba tubuhku. Pertama kali telapak tangan Mas Narto menyusup ke dalam bra-ku kurasakan hanya geli. Tidak ada enaknya. Begitu pula ketika jari-jarinya menyentuh puting dadaku. Hanya geli. Tapi lama kelamaan, aku menikmati hisapan mulut Mas Narto di puting dadaku. Enak, serasa melayang, dan lalu kurasakan basah di bawah sana.

'Dadamu bagus.' pujinya berulang-ulang.
Pelajaran lain yang kudapat adalah tentang ketegangan tubuh Mas Narto. Kami sedang duduk di karpet kamarku bersandar pada dinding sambil berciuman. Aku bermaksud meraih pinggangnya mau kupeluk, tapi Mas Narto menggeser duduknya sehingga tanganku menyentuh selangkangannya. Sekilas aku merasakan sesuatu yang keras di balik celana pendek Mas Narto. Kembali aku meraih pinggang, tapi Mas Narto menahan tanganku untuk tetap di situ. Bahkan menuntun tanganku untuk mengusap-usap di daerah sana. Aku menurut saja.

Sambil terus berpagutan bibir, kini tanganku dituntun ke pinggangnya. Kupeluk erat. Aku merasakan tangan Mas Narto kembali ke selangkangannya dan melakukan sesuatu. Aku tidak dapat melihat apa yang dilakukannya, karena kami terus saling melumat bibir. Beberapa saat kemudian, tanganku diambil dari pinggangnya kembali ke selangkangan. Aku kaget. Telapak tanganku merasai benda keras dan hangat. Ciuman terlepas. Mas Narto memang nakal. Tadi dengan diam-diam dia melepas rits celana dia, melorotkan CD-nya dan mengeluarkan 'isi'-nya. Baru kali ini aku melihat kelamin lelaki dewasa yang sedang tegang. Melihat sesungguhnya, bukan hanya gambar.

Dengan wajah 'tanpa dosa' Mas Narto menuntun tanganku untuk mengocok penisnya. Dan anehnya, aku nurut saja. Juga ketika dengan agak kasar dia membuka bra-ku dan menciumi putingku. Sampai akhirnya lenganku, sampai atas, serasa diciprati cairan hangat. Mas Narto ejakulasi. Entah apa yang kurasakan waktu itu. Campuran antara rasa aneh, jijik, rasa bersalah, tapi juga sedikit kepuasan telah mengantarkan Mas Narto sampai ke puncak ejakulasi. Hanya begitulah pacaran kami yang paling 'liar'.

Mas Narto tidak pernah memaksakan kehendaknya. Apa yang kularang, dia menurut. Suatu siang di kamarnya yang terkunci, kami bercumbuan sampai 'panas'. Mas Narto sudah telanjang bulat. Dia juga telah berhasil melepaskan jeans-ku. Ketika CD-ku hendak dilepaskannya pula, dengan tegas aku menolak.

'Mas engga akan berbuat itu, Yang..' katanya sambil terengah.
'Iya, Ipeh tahu. Tapi engga Mas'
'Pengin ciumin aja'
'Engga Mas, engga'
'Lihat aja deh, sebentar'
'Mas..!' seruku sambil melotot.

Dia lalu seperti tersadar, dan minta maaf. Dia tidak pernah mengulangi permintaannya yang bagiku 'nyeleneh' itu. Satu permintaan 'nyeleneh'-nya lagi adalah waktu aku, seperti biasa, hendak melepaskan ketegangannya dengan mengonaninya. Tanganku baru mulai mengelusi penisnya ketika dia minta hal yang tidak biasa.

'Yang.. bisa engga.'
'Napa..?'
'Jangan pake tangan.'
'Lalu..?' tanyaku lugu.
'Dikulum..'
Aku marah, sehingga batal untuk membuatnya ejakulasi.

Sejak itu dia tidak pernah lagi minta dikulum. Bahkan kelak dengan Bang Mamat pun (suamiku) Aku tidak pernah melakukannya. Tapi justru dengan pria lain ini orangtuaku tidak menangkap perubahan hubunganku dengan Mas Narto. Mereka masih menganggap hubungan kami sebagaimana kakak beradik. Aku pun takut bercerita hal ini kepada orangtuaku. Aku khawatir mereka tidak merestui hubunganku ini. Yang jelas aku semakin sayang kepada Mas Narto. Kami memang saling mencintai.

Akhirnya Ayah memutuskan untuk membangun tempat kost, tapi hanya 10 kamar, satu lantai saja. Mas Narto menyambut gembira keputusan Ayah ini, bersama groupnya dia membuat proposal dan mengajukan kredit ke bank. Hanya dalam waktu 8 bulan bangunan telah selesai. Bangunannya memang sederhana, tapi kuat, dan biaya yang dicukupkan dengan dana kredit. Letaknya di samping kanan agak ke depan dari rumah utama dan bersambung dengan pintu tengah rumah. Terdiri dari 10 kamar, ada ruang tamu di tengahnya, 2 kamar mandi.

Mas Narto benar, tanpa beriklan seluruh kamar telah disewa oleh mahasiswa. Sepuluh orang cowok semua. Selama pembangunan kamar kost itu Mas Narto semakin dekat dengan Ayah. Sehingga ketika kuliahnya selesai dan meraih gelar insinyur, tanpa ragu dia melamarku melalui Ayah. Mas Narto kelihatan amat terpukul ketika lamarannya ditolak Ayah.

***

Entah kenapa dalam usiaku yang 23 tahun ini aku jadi begitu 'membara'. Aku ingin Bang Mamat melumatku setiap malam, aku memimpikan hal itu, bagai kehausan yang tidak kunjung puas. Mimpi tinggallah mimpi. Kenyataannya Bang Mamat semakin tenggelam mengurus usahanya. Dia menyetubuhiku seminggu sekali, di hari libur. Sementara aku menginginkan setiap hari.

Pernah suatu malam menjelang tidur aku kepingin sekali. Aku mencoba mulai mengelus-elus tubuhnya, dengan 'kode' begitu Bang Mamat telah mengerti bahwa aku menginginkan hubungan seks. Dengan halus dan sambil meminta maaf Bang Mamat menolak, capek katanya. Dia memang benar-benar capek setelah seharian bekerja keras. Sebentar kemudian dia telah lelap. Tinggal aku sendiri, susah tidur dan akhirnya hanya dapat menangis.

Suatu pagi telepon berdering.
'Ipeh..?'
'Iya benar, siapa nih?' sahutku.
'Mas Narto.'
Kaget aku bukan main. Sejak aku menikah dengan Bang Mamat, aku sudah melupakan lelaki ini. Sudah hampir 4 tahun tidak ada kabar, kini dia tiba-tiba menelepon. Ada apa?

'Hai! Ada angin apa nih tiba-tiba nelepon?' tanyaku.
'Emm.. Ayah ada Pah..?'
'Udah berangkat dong, kenapa gitu.'
'Gini.. Eh, anaknya udah berapa sekarang?' Mas Narto mengalihkan pembicaraan.
'Satu dong, laki, hampir 3 tahun, Mas sendiri gimana?'
'Masih seperti yang dulu, belum laku.'
'Ah, masa?'
'Bener!'
Aku terdiam. Rasanya aku ikut bersalah.

'Ipeh?'
'Ya Mas.'
'Tolong sampaikan ke Ayah ya, ada temen Mas mau lihat-lihat tempat kost.'
'Udah penuh tuh Mas.'
'Bukan mau kost, dia mau bikin tempat kost, mau lihat hasil karyaku dulu.'
'Kalau cuman itu langsung aja Mas ke sini, engga perlu bilang Ayah dulu, pasti beliau izinkan.'
'Bener nih? Kita mau ke situ, sekarang.'

Tiba-tiba aku jadi berdebar. Bingung, bagaimana aku harus bersikap menemui mantan kekasihku ini. Jelas harus berbeda dibanding dulu. Kini aku sudah dimiliki orang. Kembali terbayang masa-masa kami pacaran dulu. Dengan dia lah aku pertama kali berciuman. Juga dia lah orang yang pertama kali menciumi buah dadaku. Juga milik dia lah aku pertama kali melihat dan merabai kelamin lelaki. Untung hanya itu, tidak berlanjut, sehingga aku dapat menyerahkan perawanku kepada suamiku.

Bersambung . . .